Beberapa tahun yang lalu sebelum menginjakkan kaki di lampung, beredar sebuah foto di Laman Facebook saya, sebuah Landscape bebatuan unik, menjulang tinggi penuh angkuh namun begitu indah jika dipandang.Membidiknya dalam frame kamera tentu salah satu opsi terbaik. Orang-orang mengatakan tempat itu laksana “Gigi Hiu” yang sedang menganga atau kata penduduk setempat “Batu Layar” karena batunya yang mengembang bagaikan Perahu Layar….♥♥♥♥♥

Malam itu saya dan Fajrin Herris si Travelergadungan.com sedang mengobrol asik di salah satu kedai tempat kami biasanya berkumpul, yaitu kedai aceh jumbo raya, dan Tak Lama kemudian Yay (panggilan akrab saya ke dia) membuka pembicaraan..

“Ehhh gimana kalau kita ke gigi hiu..??kata dia sambil menyeruput kopi aceh andalannya.

Saya: waoo Gigi Hiu….boleh bangett tuh..  Sontak saja lagsung ku iyakan, karena sebenarnya moment inilah yang sejak lama ku tunggu-tunggu, bukan tanpa alasan, Gigi Hiu ini adalah salah satu landscape terbaik yang ada di Lampung, tapi sudah setahun lebih saya berada di Lampung sekali pun belum pernah ku jejaki tempat ini.

Yay: Iya di,, jadi kebetulan saya lagi kedatangan tamu dari batam (dua orang) mereka traveler juga,.. mba mero dari seniberjalan.com dan mba Siti Atikah namanya.., jadi kalau adi mau ikut yokk monggo.., masa iya sudah lama di Lampung tapi belum pernah ke gigi hiu kan..”kami pun sama-sama ketawa,,iya betul juga tuh” 😀

Setelah deal malam itu, keesokan harinya kami janjian di depan hotel tempat mereka menginap, setelah saling mengenalkan diri kami pun langsung bergegas menuju gigi hiu kelumbayan tanggamus.. “Yeaaahh I’m Coming kataku dalam hati”

Cara Menuju Ke gigi Hiu

Sebenarnya ada dua jalur yang dapat kita tempuh menuju ke Gigi Hiu, jalur pertama bisa via kiluan dan jalur ke dua via padang cermin. Untuk jalur pertama tidak saya rekomendasikan karena medan yang harus kita lewati setelah kiluan menuju gigi hiu itu sangat…sangat extreme, perlu sepeda motor khusus untuk bisa melaluinya kecuali kalau kalian memaksa tetap bisa namun sangat tidak di anjurkan, apalagi jika musim hujan… saya harapkan jangan lewat jalur ini.

Nah untuk jalur ke dua bisa via padang cermin, jalurnya pun “lumayan” enak, dalam artian, di beberapa jalan yang akan dilalui juga terdapat jalan yang kurang bagus, mulai dari jalan mulus, jalan onderlaag, naik turun bukit dengan bebatuan besar,, jika kurang fokus dan motor tak stabil maka bisa membuat penumpangnya terjatuh.

Kecamatan Kelumbayan merupakan kecamatan terakhir yang akan dilalui jika menuju gigi hiu. Jadi pastikan bekal dan persediaan makanan sudah dipastikan lengkap sebelum memasuki kawasan tanpa penduduk. Sebenarnya sih di Gigi Hiu juga ada bapak-bapak  yang tinggal dan menjual makanan serta minuman, tapi karena tidak bisa dipastikan beliau selalu ada di tempat jadi saya sarankan sebaiknya membawa bekal.

Kecamatan Kelumbayan, Tanggamus

Setelah beberapa jam berkendara, jatuh bangun dalam perjalanan.. akhirnya kita sampai juga di destinasi andalam tanggamus ini,..rasa puas bercampur haru seakan bergelora melihat pemandangan yang begitu indah ini. Panorama landscape yang ditawarkan begitu apik hingga saya tak henti-henti mengatakan.. wao..waoo mantapp banget … 🙂

Perjuangan ini rasanya tak sia-sia, apa yang kita dapatkan sebanding dengan objek yang terpampang di depan mata. Batu karang yang menjulang tinggi, langit biru yang juga sangat mendukung saat itu..bener-bener perfect jika diabadikan dalam sebuah frame kamera. Oyaa satu lagi, spot ini sangat cocok bagi anda yang sangat suka Landscape photography.

Beberapa foto gigi hiu yang sempat saya abadikan.. 

Seorang pengunjung sedang asik mengambil foto ketika ombak keras gigi hiu menghantam bebatuan, saya pun dari kejauhan tak luput menekan shutter kamera.
Pengunjung yang sedang asik menikmati megahnya panorama landscape gigi hiu… “Begitu Memesona”
Landscape gigi hiu diambil dari atas salah satu bebatuan yang menjulang tinggi, dari tempat ini, gigi hiu memang kelihatan lebih jelas.
Salah satu teman seperjalanan sedang asik bergelantungan di hammock sambil menikmati panorama gigi hiu..
Maaf… Saya Numpang Selfie 🙂

Total Jarak yang ditempuh untuk sampai ke gigi hiu sekitar 3 sampai 4 jam an tergantung kecepatan motor, tapi rata-rata lama perjalanan sekitar itu. Selain kondisi jalan yang tidak begitu bersahabat, lama perjalanan dan fasilitas yang tersedia juga menjadi alasan mengapa tempat ini masih kurang/belum terlalu ramai. Pengelolaannya pun ala kadarnya, bahkan untuk menginap ditempat ini kita harus merogoh kocek yang lumayan besar sebagai uang keamanan bagi yang menjaga kendaraan kita.

Belum puas ke Gigi Hiu…. 

Kedatangan saya ke gigi hiu minggu lalu rupanya belum membuatku puas dengan hasil foto yang saya dapatkan, ada satu moment yang saya kejar… “saya kepingin sekali memotret pas moment sunset di gigi hiu, sepertinya asik”

Bak gayung bersambut, di grup WA Backpacker Community Lampung (BCL) juga lagi heboh-hebohnya membahas rencana mereka menghabiskan akhir pekan minggu ini.. Salah satu opsi terkuat adalah gigi hiu…nah karena kemarin belum puas, akhirnya saya ikut lagi dalam perjalanan kali ini bersama teman-teman dari Backpacker Community Lampung.

Kembali melalui jalur via padang cermin dan sampai disana sekitar sore hari,..jika diperkirakan maka sesuai rencana, saya bisa menunggu sunset sore itu. Sampai disana ternyata sudah ada satu rombongan dari anak Teknik Elektro Universitas Lampung, berkenalan sebentar setelah itu kami melanjutkan untuk mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda.

Rasa optimis saya masih terpatri dalam hati bahwa sore nanti inshaAllah bakal ada sunset yang sudah lama ku tunggu-tunggu…akan tetapi manusia hanya bisa berencana semuanya kembali ke kehendak sang pencipta karena tiba-tiba sore itu menjadi gelap…awan hitam mulai menggumpal dari kejauhan dan menghampiri kami, sepertinya bakal turun hujan nanti malam.

Sepertinya rencana saya untuk memotret sunset di gigi hiu bakal gagal kali ini, tapi saat itu saya tetap optimis.., sambil menarik tas kamera dan tripod dari dalam tenda, kemudian bergegaslah saya menuju spot andalan saya. Memotret beberapa kali tapi ternyata awan makin menghitam, air pasang pun mulai naik, rasa takut mulai menghantui… takut jikalu air pasang tiba-tiba naik dan saya tidak bisa menyebrang kedaratan (apalagi saat itu saya hanya hunting sendiri, teman-teman lainnya sedang asik di dalam tenda).

Melihat kondisi ombak yang makin keras menghantam saya putuskanlah untuk balik ke tenda, dan hanya sanggup mendapatkan moment ini.. (lagi-lagi belum puas)

Menunggu Sunset di Gigi Hiu
Menunggu Sunset di Gigi Hiu “Sunset yang ala kadarnya”
Cuman segini…
sampai akhirnya yang di tunggu tidak datang juga, saya memutuskan untuk turun.. hari makin gelap saat itu..
Kecewa…??biasaaa aja…namanya juga pejalan harus terbiasa menikmati situasi apapun, kadang antara ekspektasi dan realita mungkin saja bisa berbeda.. ahhh itu sudah biasa.. 😀

“malam” itu setelah makan malam dan ngopi, kami duduk di depan tenda sambil bersenda gurau bersama teman-teman. Dann taraaa.. tiba-tiba hujan deras, kami segera merapikan barang dan masuk ke dalam tenda.

Tapi, tunggu….saya tiba-tiba teringat dengan kumpulan anak-anak teknik elektro Univ.Lampung yang tadi sore kami temui, mereka kan tidak membawa perlengkapan camping, sementara diluar lagi hujan deras.., astagaa ini fatal sekali, datang ke tempat seperti ini tujuannya menginap tapi tidak membawa perlengkapan camping. Setelah keesokan harinya, kami bertemu dengan mereka, ternyata mereka sempat ke rumah penjaga sebelum hujan deras turun… dalam hatiku berkata, owww syukurlah kalian baik-baik saja.

Pulang dari Gigi Hiu via Kiluan.. waooo gimana rasanya ya..?

Pengen sih sebenarnya bilang bahwa kita lewat padang cermin aja, dengan kondisi motor saya yang kurang stabil, rasanya saya belum siap untuk lewat jalur extreme ini, tapi keputusan bersama sudah di buat dan fix kita pulang lewat jalur extreme gigi hiu. haha…

Pada pendakian pertama jalanan sudah mulai tak bersahabat, jalur yang kita lalui sepertinya jalan air ketika sedang hujan ditambah lagi kita harus jeli melihat kondisi jalan mana yang bagus untuk dilewati, salah dikit bisa terjatuh kita.

Saya begitu fokus melewati jalur ini, hingga tak sempat terpikirkan untuk memotret kondisi jalan yang dilalui.,tapi jika lewa jalur ini, itu ibarat bersusah-susah dahulu senang pun datang kemudian..karena kita bakal menikmati kenyamanan ini.

Setelah capek melewati jalur extreme kita bisa beristrahat sejenak sambil menikmati air sungai yang begitu segar ini, dibawah kolom jembatan tempat kami berkumpul, memasak, makan abis itu kita mandi lagi….Nikmatnya Haqiqi banget kata orang-orang 😀 😀

Ternyata lewat jalur ini ada juga ya enaknya…meskipun capek setelah melalui jalur extreme, semua terasa hilang terbawa air ketika nyebur ke sungai ini..apalagi saat itu teman kami menemukan durian jatuh “Kata warga setempat ambil aja,,,wahhh tambah lagi kenikmatannya” haha..

Jadi, kalian yang belum pernah mencoba lewat jalur ini, bolehlah sekali-sekali dicoba dengan perencaan berangkatnya via padang cermin, nah pulangnya bisa lewat kiluan. dan rasakan sendiri kenikmatan haqiqinya bercebur di sungai ini.

Kenikmatan yang Haqiqi banget ini…meskipun perjalanan kali ini belum menemukan apa yang dicari tapi kisah dibalik perjalanan ini begitu menyenangkan. Cerita tentang jatuh bangun melawan jalan terjal via kiluan, cerita tentang tak bertemu sunset di kiluan hingga merasakan kenikmatan haqiqi di bawah kolom jembatan adalah cerita yang pantas untuk kita kenang di hari tua.

Perjalanan mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan bukan tentang jarak yang kita tempuh tapi cerita dibalik itu, karena setiap perjalanan punya ceritanya.

Tabik.. 🙂

24 COMMENTS

    • iya mba lumayan sih, dan lumayan juga membuat pinggang serasa mau patah karena harus fokus terus sama jalan rusaknya…. Tapi pemandangan yang disajikan saya garansi deh bikin mupeng,.. yukk mari ke Lampung 🙂

    • ayooo kk main ke Lampung.. di sni banyak t4 yg instagramable banget hehe…
      atau mau yg belum banyak org tau jg,, ada bnyak 🙂

      thanks jg mas sdh berkunjung di blog bugis traveler.. salam 🙂

    • wahhh bener2 pegel mba, soalnya jalan yg di lalui itu bener2 menantang..aplagi klw baru pertama kali kayak nyesel sdh ke sini.. Tapiiiii klw sdh sampai berrrrrr semua terbayarkan dengan pesona landscapenya yg memukau, klw suka motret sgt wajib nih main k sni (y) recomended

  1. 3-4 Jam itu kayanya sama kaya dari Bogor ke Pelabuhan Ratu deh nih. Lama juga yakk HAHA.
    Kemaren ke lampung belom sempet ke Gigi Hiu euy. Semoga bisa jadi nex destinationlah kalo ke Lampung lagi 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here