Siapa sangka tempat yang tak begitu jauh dari kota kendari, tempat yang dulunya hanyalah desa kecil yang begitu bersih dan nyaman ternyata menawarkan pesona alam yang begitu memukau, mulai dari wisata bahari hingga pesona air terjun dapat kita jumpai di sini. Orang-orang menyebutnya “Desa  Wisata Namu” salah satu tempat yang pas untuk menghabiskan akhir pekan yang terbaik.

Awal cinta ini dimulai setelah melihat salah satu postingan teman saya di Instagram tentang desa namu, karena penasaran akhirnya saya pun bertanya..

Saya: Jo, itu di mana kok keren begitu tempatnya, tempatnya teduh dan terdapat banyak pohon kelapa ditepian pantainya dan juga terdapat sebuah ayunan yang bergelantungan diantara dua pohon kelapa…. “hemmp sepertinya sebuah tempat menarik “pikirku dalam hati”
Jo: Owwww. itu di Desa Namu di, wahh harus ke sini di kalau kamu pulang, di jamin betah deh sabtu minggunya di sini 😀
Saya: Wah gitu ya.. oke dehh. Insya Allah pulang kampung nanti saya akan mengunjunginya 🙂

Berbekal rasa penasaran yang mendalam saya pun akhirnya memutuskan untuk mengujungi tempat ini. Bersama dengan seorang teman saya dari jakarta dan beberapa orang lagi dari kendari kami menuju ke pelabuhan Amolenggo di kecamatan Kolono Timur. Oia perjalanan dari kota kendari menuju pelabuhan ini dapat ditempuh kurang lebih selama dua jam perjalanan, bisa menggunakan roda dua maupun roda empat, kondisi jalan juga menurutku sudah sangat baik.

Pelabuhan Amolengu di Kolono Timur

Selama 45 menit kapal yang kita tumpangi akan membelah lautan disepanjang perairan pelabuhan amolengu menuju desa namu, dalam perjalanan beberapa kali mata ini disuguhi pemandangan tepi pantai yang masih perawan dan belum terjamah, sepertinya jalur ini memang sangat potensial untuk pengembangan wisata bahari kedepannya. Tapi bukan cuman keindahan tepi pantai yang tersaji dalam perjalanan ini, tampak jelas bekas penambangan yang telah ditinggalkan oleh pengelolanya, cukup merusak pemandangan dan tentunya juga merusak ekosistem dan lingkungan disekitar.

Di Sambut Wajah-wajah riang anak Desa Namu
Di atas dermaga kayu sepanjang 30 meter tampak anak-anak desa namu telah mengamati kami dari kejauhan, menyambut dengan senyum tulusnya sebagai tanda salam perkenalan hangat dari mereka. Jadi sepertinya anak-anak di Desa Namu ini sudah terbiasa ketika ada tamu, mereka dengan sangat senang jika di ajak untuk bermain, di ajak untuk menunjukkan tempat-tempat keren lainnya pun mereka sangat bersemangat.

Oya di Desa Namu ini ada beberapa pilihan tempat beristrahat, bagi kalian yang tidak membawa peralatan camping bisa menginap di rumah-rumah warga dengan tarif yang cukup murah, bisa juga meminta untuk disiapkan makan siang atau makan malam. Nah bagi kalian yang membawa peralatan camping juga telah tersedia tempat camping yang sangat nyaman dan bersih.

Di ajak Berkeliling Desa Namu…

Dermaga itu mengantarkan kita ke tepian desa namu, di sambut dengan rimbunan pohon kelapa dengan tulisan “Namu” sebagai simbol bahwa saat ini anda sedang berada di desa namu. Di sisi kiri dermaga ini terdapat sebuah pos jaga sebagai tempat informasi bagi para pengunjung yang ingin mengetahui lebih banyak tentang desa namu, tapi rumah ini juga bisa di sulap sebagi tempat tinggal sementara, dan karena pada saat itu kami tidak membawa peralatan camping makanya kami diijinkan untuk menginap di pos ini.

Kesan pertama dengan desa ini telah membuat saya jatuh hati, kebersihan, kenyamanan serta keramahtamahan warganya telah menghipnotis untuk betah berlama-lama di sini.

Di bawah rimbunan pohon kelapa kami melalui jalan setapak yang telah di semen, mengantarkan kami ke salah satu rumah warga…”oww ternyata itu rumah pak harlan”..salah satu penggiat wisata di desa itu. Beliau bersama dengan komunitas Ruruhi Project memberikan pencerahan kepada masyarakat sekitar tentang potensi wisata yang dapat dikembangkan di desa namu, hingga akhirnya terbentuklah “Desa Wisata Namu”

Hasilnya memang sudah dapat dinikmati, walaupun masih belum maksimal tapi setidaknya desa ini telah mengarah ke arah yang lebih positif dalam pengembangan desa berbasis desa wisata. Masih banyak terdapat spot-spot wisata yang belum dikolola saat kami mengunjungi tempat ini, salah satunya air terjun Pitu Ndengga.

Kami juga diantar ke salah satu sumber mata air yang memang terlihat belum dikelola dengan baik hingga alirannya punya masih belum lancar, kata pak harlan akan dilakukan perbaikan dan pengaturan jalur air kedepannya. Kemudian disambut oleh pak desa setempat dan diajak ngopi bareng 🙂

Sementara teman-teman saya sedang mengobrol dengan pak desa saya pun memanfaatkan moment langit yang sedang membiru untuk segera diabadikan dalam frame.

Keceriaan anak-anak desa namu saat bermain sampan
Tepian Desa Namu
Jalan-jalan sore lebih menyenangkan karena lingkungan desa namu yang cukup bersih
Pantai yang Bersih
Lomba gayung perahu

Menanti Sunrise di Pagi Hari

Pagi hari adalah waktu yang sangat pas untuk menikmati pagi dengan secangkir kopi, bersenda gurau dengan teman sejawat sambil menceritakan unek-unek selama sepekan berlalu. Bias-bias jingga yang terbit dari kejauhan semakin menambah kehangatan pagi itu, sementara burung-burung juga tak mau kalah, mereka saling berkicau secara bergantian… ahhh nikmatnya pagi itu di desa namu.

Bias jingga yang tampak dari kejauhan

Hari ke Dua Siap Explore Desa Namu dan Snorkeling

Hari ke dua kami memutuskan untuk mulai mencoba wisata baharinya, mulai dari mencoba beberapa titik penyelaman yang direkomendasikan sampai beberapa spot yang memungkinkan anda dapat bertemu dengan kawan penyu.

Kawan saya yang bernama eddy, naim dan teman dari jakarta sempat bertemu dengan kawanan penyu yang hidup disekitar pantai tersebut, bahkan penyu yang mereka temukan berjumlah lebih dari satu. Kami berharap dengan adanya penyu tersebut bukan malah nantinya akan menjadi pemburuan para manusia-manusia yang serakah akan hasil laut, biarkanlah mereka berkembang biak diperairan tersebut, tugas kita cukup melestarikan dan memastikannya bahwa mereka aman di sana.

Main air

View Desa Namu dari Puncak
Puncak ini juga menjadi salah satu spot foto ketika kita berkunjung ke desa namu, panorama yang disajikan begitu memukau, laut yang berwarna biru tosca, desa namu yang terlihat dari kejauhan dan pasir timbul yang muncul kala air laut sedang surut. Tapi hati-hati karena untuk naik ke tempat ini cukup terjal jadi pastikan kalian menggunakan sendal atau sepatu tracking.

View Desa Namu dari salah satu puncaknya

Panorama Landscape yang memukau
Bagi kalian yang pecinta fotografi, sempatkanlah menuju kebawah tepat ditepian spot snorkeling ini, nah di sini kalian dapat memotret panorama landscape yang cukup bagus, warna bebatuan yang kecoklatan, langit biru serta pepohonan yang menghijau menambah kontras foto anda.

Panorama Landscape Desa Namu
Suasana yang tampak begitu teduh
Bebatuan Pantainya yang berwarna kecoklatan

Oya ini salah satu air terjun yang belum sempat kami explore saat itu disebabkan karena jalan menuju ke air terjun masih dalam perbaikan, jadi sesuai saran pak harlan spot ini kami pending dulu. Oleha karena itu saya tampilkan aja videonya, supaya kalian yang membaca ini tidak penasaran hehe..

Air Terjun Pitu Ndengga Desa Namu

Video ini adalah karya dari Pokea_production @2017

Foto-foto tentang Desa Namu selengkapnya bisa di lihat di Portofolio saya .. klik di sini

Desa Namu adalah sebuah tempat mencari ketenangan, jauh dari hiruk pikuk ibukota, bahkan saat saya datang ke sini pun listrik juga belum ada jadi bener-bener back to jaman dulu,,,Namun justru disitulah saya merasakan kenikmatan yang haqiqi akan suatu liburan yang berkesan, tak ada signal dan gangguan lainnya ketika anda berlibur ke sini.

Kesan yang begitu mendalam tentang Desa Namu dan saya ingin ke sini lagi.. 🙂

9 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.